WASPADALAH,MONOSODIUM GLUTAMATE/VETSIN FAKTOR POTENSIAL PENCETUS HIPERTENSI DAN KANKER

Dr. Iwan T. Budiarso , DVM, MSc, Phd, APU

Sehubungan dengan heboh tercemarnya zat penyedap masakan Ajinomoto oleh
enzim asal babi, maka Departemen Kesdehatan c.q Dirjen POM telah
memerintahkan perusahaan tersebut untuk menarik semua produk dari peredaran
(KOMPAS , 19 Desember 2000). Pelarangan tadi an sich berhubungan dengan
persoalan hukum agama saja. Alangkah baiknya kalau sekarang Departemen
Kesehatan juga mau meninjau kembali apakah Monosodium Glutamat (MSG) /Vetsin
yang kadarnya 100% yang dijual secara bebas itu betul betul aman untuk
dikonsumsi dan tidak membahayakan terhadap kesehatan. Karena MSG/Vetsin itu
mengandung natrium/sodium, jika terlalu banyak termakan bisa menyebabkan
hipertensi dan sebaliknya jika MSG dipanaskan akan pecah menjadi 2 zat baru
yakni Glutamic Pyrolised -1 (Glu-P-1) dan Glu-P-2. Kedua zat ini bersifat
mutagenik dan karsinogenik.(lihat bawah) (Matsumoto Dkk 1977, Sugimura dan
Sato, 1983,Takayama DKK, 1984).
Seperti diketahui, secara epidemiologis 30 % penduduk dunia itu
peka terhadap keracunan garam dapur (baca natrium/sodium) dan menyebabkan
tekanan darah tinggi (hipertensi). Dan golongan penduduk dengan kelebihan
berat badan (kekegemukan atau obes) maka risikonya naik menjadi 50%.
Hipertensi memang bukan penyakit pembunuh sejati, tetapi ia digolongkan
sebagai The Silent Killer (pembunuh diam diam). Penyakit ini gejalanya tidak
nyata dan harus diwaspadai  serta perlu diobati sedini mungkin. Karena
hipertensi yang  kronis dan diabaikan dapat secara tiba tiba membawa
malapetaka seperti serangan  jantung atau stroke. Hal lain juga bisa
menyebabkan lemah jantung, penyakit jantung koroner dan gangguan ginjal.  Di
Amerika Serikat, setiap tahunnya hampir setengah jumlah kematian disebabkan
oleh faktor kelebihan makan garam (baca natrium /sodium). Dan 1 dari 4 orang
Amerika secara tidak sadar ternyata mengidap penyakit hipertensi.
Sumber utama natrium atau sodium dinegara negara Barat adalah
garam dapur. Akan tetapi di Indonesia, disamping garam dapur dan ikan asin,
sumber lain yang lebih potensial adalah monosodium glutamate (MSG/Vetcin).
Karena kadar Natrium/sodium dalam 1 gram garam dapur setara dengan kadar
natrium/sodium yang terkandung dalam 3 gram (1 sendok teh) MSG/Vetcin. Satu
gram garam dapur membuat 1 mangkok sop atau mie menjadi asin, Sebaliknya 3
gram MSG/Vetcin tidak terasa asin, malah terasa lezat dan gurih. Sehingga
secara tidak sadar, bisa keracunan natrium atau sodium karena keblabasan
menambahakan  MSG/Vetcin.
Di Amerika Serikat makanan siap saji untuk bayi dilarang dibubuhi MSG/Vetsin
dan pada label harus dicantumkan 3 kata yang besar dan tebal yakni”:NO MSG
ADDED”. (Tidak dibubuhi MSG). Apa artinya ini?  Karena hasil penelitian
menunjukkan bahwa makin muda umur hewan yang dipakai untuk percobaan MSG
makin peka terjadi kerusakan di bagian jaringan otaknya. Jadi sifat
keracunan MSG adalah Age Dependent  (tergantung umur); makin muda umurnya
makin sensitif.
Pemerintah sedang mencanangkan program supaya para ibu menyusui bayinya
dengan  air susu ibu (ASI) sendiri selama 4 bulan penuh. Cara ini terbukti
bahwa si bayi menjadi lebih sehat dan jarang sakitan. Makanan tambahan baru
dianjurkan setelah si bayi umur 4 bulan. Bagi para ibu di kota kota besar
dan berpendidikan serta tahu tentang pengetahuan gizi, tidak ada masalahnya.
Karena mereka tahu bagaimana menyediakan makanan tambahan yang bermutu
“Empat Sehat, Lima Sempurna”. Sebaliknya bagi para ibu yang tinggal di
pedesaan, pegunungan, ekonominya lemah, kurang pendidikan dan tidak tahu
tentang ilmu gizi. Maka sering kali mereka membuat makanan tambahan yang
sederhana dan disukai, tetapi tidak ada mutunya.. Seringkali mereka hanya
memberikan  mie instan atau bubur yang hanya ditaburi bubuk MSG/Vetsin dan
kecap atau garam. Karena rasa sudah lezat, dan  si bayi bisa makan dengan
lahap dan “kenyang”. Padahal menu makanan demikian adalah tidak sehat karena
tidak mengandung cukup protein, vitamin, mineral dsb. Jadi anak itu
sebetulnya sedang mengalami yang disebut “Starvation  in disguise  but
malnutrition in reality” (Kelaparan yang semu, tetapi mengalami mal nutrisi
sejati). Protein adalah sangat diperlukan untuk pembentukan jaringan otak.
Kalau nanti sudah besar, bisa dibayangkan bagaimana kualitas Sumber Daya
Manusia (SDM) yang demikian itu? (Ingat di Amerika makanan bayi dilarang
dibubuhi MSG).!
Kalau di atas tadi dibahas dari sisi mengenai efek mal nutrusi, bagaimana
sekarang dari sisi konsumsi  natrium/sodiumnya? Seperti sudah berulang kali
diatas dijelaskan 1 gram garam dapur adalah setara dengan 1 sendok teh MSG/
Vetsin. Kalau dari sejak bayi saja sudah mulai dijejel dengan MSG dan terus
sampai dewasa, Biasanya orang yang sudah biasa mengkonsumsi MSG menjadi
toleran dan ingin makan lebih banyak lagi karena sudah kecanduan. Kalau dari
bayi terus menerus  makan MSG ngetrend (cenderung) seperti sekarang ini
dosisnya, tidak mustahil 20 tahun kemudian nanti sebagian besar bayi bayi
sudah mulai mengidap hipertensi.
Sekarang orang tidak bisa lagi menyebutkan 10 macam makanan yang tidak pakai
MSG. Jadi makanan kita sudah dijajah dan dicemari berat oleh MSG. Makanan
tradisionel dan lokal yang dulunya lezat oleh ramuan rempah atau bumbu
rempah. Sekarang boleh dikatakan tidak ada lagi makanan tradisionel dan
lokal asli yang tidak dicemari MSG. Bahkan sayur asem, sayur bening, sayur
lodeh , sambel, santen cendol, adonan tepung pisang goreng, pun sudah
dicemari MSG. Sudah begitu orang tidak tahu berapa kandungan MSG tadi dalam
setiap masakan, sehingga jumlah total MSG dari berbagai macam masakan dan
makanan yang sudah dilahap apa sudah melampaui batas ambang keamanan atau
belum, tidak seorang pun yang tahu!

Kriteria Hipertensi atau Tekanan Darah Tinggi
Seseorang dinyatakan mengidap hipertensi jika tekanan darah
sistoliknya lebih besar daripada 140 mm Hg dan tekanan diastoliknya diatas
90 mm Hg. Tekanan darah yang ideal adalah jika tekanan sistoliknya  120 mm
Hg dan diastoliknya 80 mm Hg. Tekanan sistolik adalah tekanan puncak di mana
jantung berkontraksi dan memompa darah keluar melalui pembuluh darah arteri.
Sedangkan tekanan diastolik adalah di mana jantung sedang mengalami
relaksasi dan menerima curahan darah dari pembuluh daran periferi.
Prevalensi hipertensi pada penduduk umumnya berkisar anatara 10-20%, dimana
2/3  tergolong hipertensi ringan (diastolik 90-104 mm Hg).

Bagaimana Bisa Terjadi Hipertensi?
Ada 2 bentuk hipertensi, yakni  1. Bentuk essensial. Bentuk ini
penyebabnya belum diketahui, ada kemungkinan karena faktor keturunan atau
genetik dan 2. Faktor lingkungan. Faktor yang akhir ini biasanya erat
hubungannya dengan gaya hidup dan pola makan yang kurang baik. Faktor
makanan yang sangat berpengaruh adalah kelebihan lemak (obesitas), konsumsi
garam dapur yang tinggi, merokok dan minum alkohol.
Salah satu sistem yang berperan dalam pengaturan tekanan darah
adalah sisitem Renin-Angiotensin- Aldosterone. Renin dihasilkan ginjal yang
akan mengubah angiotensin hati menjadi angiotensin I. Zat ini dengan
bantuan  Angiotensin Converting Enzyme (ACE), akan diubah menjadi
Angiotensin II dan zat yang akhir ini akan mengertak otak untuk merangsang
sistem saraf simpatikus. Angiotensin II juga menyebabkan retensi natrium
(sodium) dan merangsang sekresi aldosterone, sehingga terjadi kenaikan
tekanan darah.
Contoh otentik tentang keracunan monosodiu atau natrium adalah
sebagai berikut: Ada beberapa penderita  hipertensi mengeluh kepada saya
bahwa mereka sudah mengurangi makan garam (baca monosodium/natrium) sesuai
dengan nasihat dokter dan juga sudah tekun dan rutin makan obat hipertensi,
tetapi ternyata tetap saja tekanan darahnya  tinggi dan  tidak mau turun
seperti yang diinginkan.  Mereka jadi gelisa dan bingun  dan bertanya tanya
apakah obatnya  sudah tidak mempang atau tidak cocok. Lalu saya balik
bertanya, apakah disamping sudah mengurangi makan garam dan tetap makan obat
dokter, kalau makan nasi, masakan  lauk pauknya dibubuhi MSG/Vetsin atau
tidak ?  Jawaban mereka spontan, Ya ! Dan tambahnya, katanya; la wong ,
sudah tidak asin, kenapa masakannya tidak boleh ditambah MSG/Vetsin supaya
gurih ! Emangnya salah?
Saya jelaskan bahwa garam dapur itu nama kimianya adalah
Monosodium Chlorida atau Natrium Chlorida.  Dan yang menyebakan Hipertensi
itu adalah akibat makan Monosodium atau Natrium ion-nya. Sekali pun tidak
makan garam, tetapi masakannya tadi dibubuhi MSG, maka berarti masakan tadi
memperoleh Monosodium atau Natrium Ion yang berasal dari MSG (Monosodium
glutamate). Jadi sekali pun tidak makan garam (baca monosodium atau
natriun), maka mereka keracunan monosodium/natrium yang berasal dari
MSG/Vetsin.  Jadi agar supaya obat dokternya mempan dan tekanan darahnya
pulih normal, maka sebaiknya bukan saja mengurangi makan garam, tetapi juga
harus tidak makan MSG/vetsin.  Pada pertemuan bulan berikutnya, mereka
mengatakan bahwa setelah tidak makan masakan yang dibubuhi MSG/Vetsin,
hipertensi langsung pulih normal !

Kronologis Jumlah Penggunaan MSG/Vetsin

Sebelum tahun 60-an MSG/Vetsin biasanya digunakan oleh  golongan
masyarakat tertentu saja seperti di Cina, Jepang, Korea, Thailand, Vietnam
dan Myanmar., baik oleh para ibu rumah tangga maupun di rumah makan.
Takarannya pun sangat kecil sekali, yakni 1-2 korek kuping (setara dengan
30-60 Mg) untuk setiap porsi masakan ala Cina,  mie atau bakso. pangsit.
Makanan tradisionel dan lokal asli tidak menggunakan sama sekali, karena
sudah terasa lezat dan gurih oleh ramuan bumbu rempah.
Namun pada pertengahan tahun 60-an, produk MSG/Vetsin diimport
dari Jepang dan Korea, serta secara gencar diiklankan baik melalui media
cetak, radio dan televisi, serta dengan papan reklame yang besar besar dan
dipampang di tempat tempat dan jalan jalan yang strategis baik di kota
maupun di desa. Disamping harganya murah, juga terbukti bahwa ia dapat
meningkatkan rasa cita makanan yang kualitasnya rendah menjadi sajian yang
lezat dan enak disantap. Sekarang disamping golongan Cina, hampir semua
golongan penduduk  diseluruh Indonesia bukan saja yang di kota, tetapi juga
yang di desa sudah mengenalnya dan cara memakainya pun sangat berlebihan dan
tidak wajar.. Karena pada kemasan produk  itu tidak disertai alat takar dan
juga pedoman takaran cara pakainya tidak ada, maka bubuk ini dipakai secara
amburadul dan melampaui batas kewajaran.
Contoh, kalau sebelum tahun 60-an dipakai takaran korek kuping,
maka setelah diimport dari Jepang dan Korea, karena harganya murah, maka
untuk setiap mangkok mie atau sop naik menjadi 100-300 Mg (jadi 3-5 kali
korek kuping). Takaran ini tidak tahan lama dan terus meningkat menjadi
500-1200 Mg (jadi sekitar 15-20 kali korek kuping). Pada tahun 70-an karena
harga MSG relatif murah, maka tiba tiba para pedagang tidak lagi segan segan
menggunakan sendok teh (setara 3000 Mg, kira kira  100 kali korek kuping),
bahkan ada yang  menuangkan langsung dari ujung kantong yang sudah
digunting. Cara yang akhir ini sering kali menjadi keblablasan ,sehingga
jumlahnya bisa lebih dari 1 sendok teh ( ingat sebelum tahun 60-an hanya
pakai 2 korek kuping)!
Dari hasil survei  Yayasan Lembaga  Konsumen Indonesia (YLKI)
pada tahun 1980 menemukan bahwa para pedagang mie bakso, mie pangsit dan mie
rebus di Jakarta adalah sebagai berikut:
Mie bakso                            1.840-1.900 Mg/mangkok (+ 31-61 X KK)
Mie rebus                             2,250-2,780 Mg/mangkok (+ 46-75  X KK)
Mie goreng/pangsit              2,900-3,400 Mg/mangkok (+ 56-96 X KK)
(Warta Konsumen No.74.Th VII, Mei 1980) (KK= Korek kuping)
Saya merasa sangat concern dan sangat prihatin sekali, karena jajanan
jajanan tersebut di atas (mie bakso) serta ditambah lagi seperti Pempek
“palsu” (karena adonan ikan-tepungnya relatif lebih banyak kandungan MSG
daripada daging ikannya), adonan tepung untuk  pisang, tahu dan tempe goreng
berisi MSG, Nyamik nyamik (Ekstruder makanan ringan anak anak) berisi MSG
dll dijajakan kepada anak anak di sekitar sekolah sekolah TK dan SD yang
memang .cukup rentan terhadap keracunan MSG dibandingan orang dewasa.
Sekarang penggunaan MSG/Vetsin  bukan main “ganasnya”, karena bukan lagi
menggunakan sendok teh, tetapi pakai sendok makan. Hal ini sering dijumpai
di restoran besar dan sea foods. Satu sendok makan setara dengan 15 gram
MSG/Vetsin ( +  250 kali korek kuping !) dan kadar natrium /sodium 15 gram
MSG setara dengan 5 gram garam dapur! Penggunaan yang berlebihan MSG/Vetsin
oleh para  pedagang atau juru masak karena secara psikologis tidak percaya
diri kalau masakan yang disajikan itu lezat dan enak. Padahal penambahan 60
Mg per mangkok (2 X korek kuping )  gurihnya dan lezatnya sama dengan yang
diberi 1 sendok teh atau makan.
Pengalaman Menghadapi Pakar International MSG
Selama bertahun tahun, saya (padahal saya adalah satu satu ahli
patologi di Indonesia yang melakukan penelitian sendiri mengenai dampak
negatif MSG terhadap kesehatan sejak 1972) belum pernah menghadiri atau
diundang untuk menghadiri  pertemuan atau seminar mengenai pemanfaat dan
khasiat fortifikasi MSG dengan vitamin A untuk memberantas kebutaan di
Indonesia. Proyek besar dan mulia ini dibiayai jutaan dollar oleh Helen
Keller Foundation.
Saya merasa heran sekali, karena saya sudah dikenal di kalangan para
peneliti bahwa saya adalah satu satunya orang Indonesia yang pernah merintis
melakukan penelitian dan melaporakn hasilnya tentang keracunan MSG dengan
hewan percobaan di pertemuan ilmiah di Jakarta 1974. Dan sudah bertahun
tahun pula belum pernah diundang ke pertemuan ilmiah untuk mendiskusikan
tentang Keamanan MSG. Tiba tiba  saya mendapat undangan dari Direktur Akdemi
Gizi, Departemen .Kesehatan .R.I. untuk menghadiri seminar sehari di
Jakarta pada tanggal 7 Nopember 1988 dengan tema “Presentation Regarding The
safety of Monosodium Glutamate” dengan pembicara tunggal Prof.Dr.dr. Micheal
J Rand yang ahli Farmakologi, University of Melbourne, Australia, dan juga
menjabat sebagai Chairman of  the 31st Meeting of FAO/WHO Joint Expert
Committee on Food Additives yang khusus didatangkan ke Jakarta. Padahal
sehari atau dua hari sebelumnya (saya sudah lupa tanggalnya), sudah ada
Seminar International tentang the safety of the fortification of MSG with
vitamin A (kira kira begitu nama temanya, saya sudah lupa), yang
diselengarakan di salah satu hotel berbintang  (entah oleh Dep.Kes atau
Helen Keller ayau joint, saya sudah lupa) di Jakarta, namun saya tidak
diundang. Jadi saya merasa heran sekali dan bertanya tanya kenapa saya tiba
tiba mendapat undangan, baik dengan surat undangan resmi dan juga ditambah
dengan telpon dari Direktur Akademi Gizi, Departemen Kesehatan. Padahal baru
beberapa hari yang Prof. Rand memberikan naskah yang sama. Jadi beliau ini
betul betul seorang Pakar Sejati yang ahli dalam bidang keamanan MSG.  Saya
mempunyai firasat bahwa secara sengaja panitia mengundang khusus saya untuk
datang dengan maksud agar saya bisa “dibungkem” dan “dibantai” oleh Prof.
Rand, karena selama bertahun tahun, bahkan sampai sekarang 2001, saya tetap
adalah orang satu satunya peneliti di Indonesia yang secara tegas tidak
setuju (ingat saya bukan anti MSG) dan berani secara terang terangan
menentang Pemerintah s.q. Departemen Kesehatan, tentang penggunaan
MSG/Vetsin yang 100% untuk umum, dan dalam program pemakaian MSG sebagai
“kuda tunggang” untuk wahana fortifikasi vitamin A dalam proyek
pemberantasan kebutaan yang dibiayai oleh Helen Keller Foundation.
Tentu saja, bukan saja tidak gentar , malah sebaliknya saya merasa sangat
bahagia karena diberi kehormatan dan kesempatan untuk dapat berhadapan
dengan lawan ilmuwan yang seorang pakar Saintis Sejati yang berkualitas
International untuk diajak diskusi secara ilmiah  mengenai keamanan MSG..
Karena di Indonesia sejak 1974 sampai 2001,  saya belum pernah ketemu lawan
ilmuwan  yang sepadan. Jadi pertemuan tahun 1988  dengan Prof. Rand akan
membuktikan mana yang benar; apakah hasil pendapat penemuan ilmiah Prof.
Rand yang menyatakan 100% aman atau hasil penelitian saya yang membuktikan
sebaliknya..
Bagaimana Hasil Seminar MSG Itu ?
Masih dalam forum, pada waktu saya diberikan kesempatan untuk bertanya. saya
langsung menayangkan kembali tranperans yang berisi data dan tabel yang sama
yang dipakai Prof. Rand. Data dan tabel tersebut adalah dari hasil
penelitian Kenney dan Tidball (1972) yang dianggap paling ilmiah, sempurna
dan sahid oleh yang pro penggunaan MSG. Lalu  saya tenjukkan kepada Prof.
Rand dan para peserta  (+  60 orang dalam dan luar negeri) bahwa data dalam
tabel tadi cacat ilmiah. Untuk menjelaskannya, saya akan kutip data tersebut
sebagai berikut:
Laporan hasil penelitian Kenney dan Tidball berjudul: Human Susceptibility
to Oral Monosodium Glutamate, (Am.J.Cln. Nutr., 1972). terdiri dari 2 tahap.
Pada Fase I adalah tahap skreening, dimana digunakan 77 orang sukarelawan
dan diberi MSG dalam beberapa macam dosis. Hasilnya 25 orang (32 %) yang
diberi MSG dosis 5 gram (Mega Dose) sekali makan yang dmasukkan dalam
hidangan mengalami reaksi Chinese Restaurant Syndrome (CRS).
Pada Fase II, 22 orang dari 25 orang sukarelawan yang mengalami  CRS pada
Fase I diuji ulang, ternyata ditemukan 2 orang (9%) mengalami reaksi CRS
yang lebih parah dan berkepanjangan (lihat Tabel 13, Kenney dan Tidball,
1972). Tetapi di dalam tabel hanya berisikan 20 orang saja, dan 2 orang yang
mengalami reaksi keracunan tidak dicantumkan, melainkan dikeluarkan dan
dicatat pada foot note. Jadi kalau orang lalai dan tidak hati hati ,maka
keterangan dalam foot note itu akan terlewatkan begitu saja. Padahal inti
kunci hasil penelitian itu terletak pada Foot Note!
Kenney dan Tidball juga telah menemukan  bahwa Thresholh   Dose  (takaran
ambang kepekaan) untuk bisa menggertak  gejala CRS adalah antara 2-3 gram
(kira kira setara dengan 1/2 sampai 1 sendok teh).
Dimana letak “KESALAHAN” atau ” CACAT ILMIAH”  data karya Kenney dan
Tidball  adalah pada Fase II, dimana 2 (9%) orang yang mengalami reaksi CRS
yang  parah dan kepanjangan tidak dicantumkan dalam tabel, melainkan
dikeluarkan dan hanya dicatat  sebagai Foot Note dan tanpa diberi
penjelasan.  Dengan demikian hampir semua peneliti yang  membaca Tabel 13,
dan tidak melihat  dan membaca Foot Note-nya (huruf di foot note rupanya
sengaja diberi huruf kecil sekali, sehingga membuat orang malas membaca.),
maka mereka, tak terkecuali termasuk Prof. Rand dan Prof Winarno (lihat
bawah), terjebak  oleh sajian data dan tabel dari Kenney dan Tidball
sehingga melakukan kesalahan yang fatal dan memalukan!. Saya menilai hasil
karya Kenney dan Tidball sungguh sangat licik dan tidak etik, sehingga
banyak peneliti yang menyitir hasil karya mereka, tanpa melihat foot
notenya, sudah pasti terkecok semua. Saya kira Kenney dan Tidball memang
mempunyai unsur kesengajaan karena mungkin ada sponsornya.
Setelah melihat data, tabel dan foot note tersebut, Prof. Rand seperti
terkena samberan petir dan tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun dan
beliau menerima kenyataan tersebut dengan wajah merah malu dan ketawa kecut!
Pertanyaan kedua kemudian saya lanjutkan, dan bertanya apakah beliau pernah
membaca laporan hasil penelitian bahwa kalau MSG dipanaskan (digoreng dengan
minyak atau deep fried dengan alat pressure cooker) akan pecah menjadi 2
macam zat baru yakni Glutamic Pyrolised-1 (Glu-P-1) dan Glu-P-2 yang
keduanya bersifat mutagenik (menyebabkan kelainan genetik) dan karsinogeink
(menyebabkan kanker), dengan kesipu sipu dan malu serta garuk garuk
kepalanya, beliau menjawab bahwa beliau tidak tahu kalau sudah ada laporan
hasil penelitian yang demikian itu.. Sayang sekali, waktu saya mau bertanya
lagi, oleh sang Moderator  tiba tiba diskusi itu diberhentikan dan
dinyatakan waktunya sudah habis!. Sungguh beruntung karena sang Moderator
telah menyelamatkan Prof. Rand kemalangan itu!

Kesimpulan dari seminar sehari mengenai Keamanan MSG, membuktikan bahwa MSG
tidak 100% aman dan bisa sebagai faktor potensial pencetus Hipertensi dan
Kaker!
Demikian pula pengalaman buruk menimpa kepada Prof. DR. F.G. Winarno yang
Ahli Teknologi Pangan, IPB dan juga menjabat sebagai President Codex
Alimentarium Commission, Joint Expert Committee on Food Additive, FAO/WHO
yang membawahi tentang peraturan keamanan penggunaan MSG, telah secara tidak
sadar dan tidak hati hati pula telah menyajikan data laporan yang sama
seperti yang dipakai Prof. Rand, (Kenney dan Tidball, 1972) di harian KOMPAS
(1992) sehingga beliau dengan penuh kepercayaan bahwa hasil penelitian
Kenney dan Tidball membuktikan secara ilmiah, sempurna dan sahid bahwa MSG
adalah aman 100% bagi kesehatan manusia. Padahal hasil penelitian Kenney dan
Tidball malah membuktikan sebaliknya.
Saya akhirnya berkesimpulan, bagaimana mungkin ada 2 pakar Saintis Sejati
yang berkualitas International ; Prof. Rand yang ahli Farmakologi dan Prof.
Winarno yang ahli Teknologi Pangan, dan kedua duanya menduduki jabatan
penting yang paling tinggi dan strategis di Joint Committee Expert on Food
Additives , FAO/WHO; yang membawahi tentang pengaturan keamanan pemakaian
MSG dapat  membuat blunder dan kesalahan yang fatal dan memalukan!. Sungguh
tidak masuk akal dan pasti ada maksud sesuatu !
Menurut saya  data yang diperoleh dari penelitian Kenney dan Tidball justru
merupakan data yang sempurna yang telah membuktikan secara ilmiah dan sahid
bahw 2-3 gram MSG (setara 1/2-1 sendok teh), sudah dapat mengertak gejala
Sindroma Restoran Cina. Dan jika dosisnya ditingkat menjadi 5 gram (kira
kira 2 sendok teh), maka akan terjadi gejala reaksi CRS yang lebih parah dan
berkepanjangan. Bila kita menggunakan istilah Prof. Winarno untuk dosis 5
gram adalah Mega Dose, maka sudah banyak orang orang kita setiap hari yang
mengkonsumsi MSG bukan saja dengan jumlah  Mega dose akan tetapi malah
melahap sampai Super Mega Dose (5 -15 gram MSG)! Ini artinya bahwa setiap
hari banyak orang Indonesia yang mengkosumsi natriun /sodium ion asal MSG
sekitar 1-5 gram sekali makan.. Pada hal menurut ahli gizi orang dewasa yang
ideal sebaiknya makan garam 6 gram sehari dan. anak anak hanya dianjurkan
untuk mengkonsumsi 3 gram garam per hari.  Jadi bisa dibayangkan apabila
setelah 10-20 tahun terus menrus keracunan natrium/sodium yang berasal dari
MSG Mega Dose saja (belum termasuk yang berasal dari garam dapur) maka tidak
mustahil sebagian besar penduduk  Indonesia sekarang ini secara tidak sadar
telah mengalami penyakit hipertensi  terselubung (ingat The Silent Killer
!), bahkan kalau apes, karena tidak menyadarinya dan tidak berobat, tahu
tahu mendapat serangan jantung atau stroke atau gagal  ginjal.
Contoh di Jepang Utara, penduduknya keranjingan makan makanan yang asin dan
diperkirakan setiap hari mereka makan garam antara 15-27 gram, sehingga
prevalensi penyakit hipertensi dan stroke sangat tinggi jika dibandingkan
dengan daerah lain yang mengkonsumsinya  dibawah 10 gram.(Joossens DKK,
1987).
Demikian pula kalau di Indonesia cara mengkonsumsi MSG/Vetsin terus ngetrend
seperti sekarang ini, dan Departemen Kesehatan c.q. Dirjen POM, tidak mau
melakukan pencegahan dengan cara melarang menjual bebas MSG yang 100% dan
menggantikan dengan model Aji-Shio (10% MSG-garam), maka tidak mustahil
dalam jangka waktu tidak lama lagi banyak penduduk Indonesia, (terutama yang
tinggal di pedesaan dan pegunungan, yang ekonominya lemah dan kurang
pendidikan serta kurang pengetahuan tentang gizi,) akan menjadi korban
sebagai penderita hipertensi kronis dengan konsekuensi sebagian dari mereka
akan mengalami serangan jantung atau stroke, penyakit jantung koroner, lemah
jantung, bahkan akhirnya juga kena gangguan dan gagal ginjal.
MSG/Vetsin Berpotensi  Sebagai Pencetus Kanker
Lain halnya kalau MSG/Vetsin itu dipanaskan ,seperti digoreng dengan minyak,
apa lagi kalau dengan cara deep fried dan alat  pressure cooker maka ia akan
pecah menjadi 2 zat yang berbeda dengan induknya; yakni Glutamic pyrlosied 1
(Glu-P-1, Amino-methyl dipyrido imidazole) dan Glu-P-2 (amino dipyrido
imidazole). Kedua zat bersifat mutagenik (menyebabkan kelainan genetik) dan
karsinogenik (menyebabkan kanker). Dengan Uji Ame’s, kedua zat ini secara
konsisten mengakibatkan mutagenik pada kuman Salmonella typhimurium dan pada
tikus dan mencit menyebabkan kanker kerongkongan, lambung, usus, hati, otak,
mammae dll (Matsumoto Dkk, 1977,Takayama DKK, 1984,,Sugimura dan Sato,1983).
Kedua zat tadi jauh lebih poten dibandingkan dengan Aflatoksin yang hanya
menyebabkan kanker hati saja.
Bagaimana Menggunakan MSG/Vetsin Yang Aman
Sekarang MSG/Vetsin ; apapun mereknya Ajinomoto, Sasa atau Miwon, atau merek
dagang lainnya yang semuanya mengandung 100% murni MSG. harus dilarang
dijual untuk umum dan secara bebas. Seperti telah diuraikan diatas bahwa
MSG/Vetsin yang murni mempunyai efek samping yang cenderung menyebabkan
penyakit hipertensi dan kanker. Oleh karena itu untuk amannya, maka
sebaiknya menggunakan MSG/Vetsin yang 10% saja dengan dicampur garam dapur.
Di Jepang, pabrik Ajinomoto sendiri untuk mensuplei bangsanya sendiri
membuat campuran MSG-Garam 10% dan diberi nama Aji-Shio. Dan Aji-Shio inilah
yang dijual secara bebas di Jepang. Menurut Dr. Waluyo, Bagian Gizi, FK,UI.,
di Jepang MSG 100% tidak dijual bebas untuk umum, melainkan untuk pabrik
makanan.
Bagaimana cara membuat MSG 10% adalah sangat mudah sekali. Ambil 100 gram
MSG/Vetsin 100% ditambahkan pada 900 gram bubuk garam dapur yang halus.
Sebelum dicampurkan, sebaiknya garam halus tadi  disangrai (digoreng tanpa
minyak) dulu agar betul betul kering. Setelah kering, dibiarkan sebentar
agar sedikit dingin, nah campurkan sekarang 100 gram MSG yang 100% tadi dan
diaduk aduk sampai merata. Masukan dalam pot atau toples yang bersih dan
kering. Nah, sekarang kita sudah membuat Aji-Shio sendiri. Jadi nanti kalau
masak, tidak perlu pakai garam dan MSG lagi cukup menggunakan Aji Shio.
Nanti kalau rasa asinnya sudah pas maka dengan sendirinya rasa gurihnya pun
sudah pasti pas juga (Data ini diperoleh dari Pabrik Ajinomoto sendiri).
Dengan demikian Aji-Shio ini bukan saja aman tetapi juga hemat, karena
harganya menjadi sangat murah sekali !.
Mengapa Aji Shio ini lebih aman? Karena sekarang kita tidak bisa memakai
MSG/Vetsin berlebihan atau sesuka hati. Sebab garam yang dicampurkan menjadi
alat pengerem (Built in break) yang jitu. Karena kalau sudah asin kita tidak
bisa menambahkan lagi, jadi kita tidak bisa keracunan MSG/Vetsin !.
Nah, sekarang mari kita menghitung berapa gram natrium /sodium kita makan
sehari. Yang ideal untuk orang dewasa mengkonsumsi garam adalah 6 gram dan 3
gram untuk anak anak. Kalau sekarang orang mengkonsumsi 6 gram Aji-Shio,
maka kita hanya makan MSG 100% murni 1/10 dari 6 gram atau sama dengan 0,60
gram atau 600 Mg (setara dengan 10 kali korek kuping) sehari. Dengan
demikian sekalipun kita umpamanya rakus makan Aji -Shio (baca garam dapur)
sampai 10 gram, makan MSG 100% murni yang sebetulnya dikonsumsi tidak lebih
dari 1 gram atau 1000 Mg per hari. dan ini kira kira setara dengan 1/3
sendok teh. Dengan demikian kita bisa bebas makan enak tanpa akan menanggung
risiko keracunan natrium yang menjadi faktor potensial penyabab hipertensi
dan penyakit jantung lainnya.

KESIMPULAN DAN SARAN
Dengan uraian diatas, berdasarkan hasil penelitian penelusuran kepustakaan
yang intensif sejak 1972 dan dengan data hasil percobaan sendiri sejak 1974
dengan berbagai hewan percobaan serta dari hasil pengamatan dilapangan
selama hampir 25 tahun, cara penggunaan MSG/Vetsin yang 100% murni dan bebas
tanpa ada pedoman dan peraturan cara pakainya yang benar dari perusahaan
MSG, menunjukkan lebih banyak menyebabkan dampak negatif terhadap kesehatan
manusia daripada keuntungannya hanya menikmati rasa enak makanan yang
sesaat. Saya sudah berkali kali menghimbau kepada Departemen Kesehatan
c.qDirjen POM untuk MELARANG penjualan MSG 100%  murni secara bebas
untuk
masyarakat umum dan diganti dengan bentuk Aji-Shio (10% MSG Murni dalam 90%
garam dapur) yang lebih aman dan lebih kecil dampak negatif terhadap
kesehatan! Hal ini bisa untuk mencegah keracunan kronis natrium/sodium ion
yang menjadi faktor pencetus terjadinya penyakit Hipertensi.
Kalau sudah dalam bentuk Aji-Shio, maka kemasan tidak perlu lagi diberi
pedoman cara pakai dan takaran, karena garam yang terkandung sudah otomatis
menjadi alat pengerem (built in break) yang jitu,. Jadi orang yang BUTA
HURUF dan bahkan yang  BUTA MATA sekali pun tidak bisa memakai MSG
berlebihan sehingga tidak mungkin bisa keracunan, kecuali yang bagi orang
yang sangat hipersensitif ( Medika No.6, Juni 1982)!
Sebagai akhir kata saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Alm.dr.
Aidyatma, Mantan Menteri Kesehatam, yang begitu bijaksana dan mau
mendengarkan suara nurani rakyatnya yang tidak menyetujui Projek Fortifikasi
Ajinomoto dengan Vitamin A untuk memberantas kebutaan di Indonesiia. dan
kepada Tuhan yang Maha Esa, bahwa Projek Fortifikasi Ajinomoto dengan
Vitamin A dibatalkan oleh Biliau.  Kalau tidak Projek yang besar dan mulia
dari Helen Keller Foundation yang memakan jutaan dollar banyaknya yang
semula tujuannya untuk memberantas kebutaan dan mendatangkan kesejahteraan
bagi rakyat Indonesia, malah sebaliknya akan membawah malapetaka. Untung
sekali proyek itu tidak jadi dilaksanakan kalau tidak maka nama harum Helen
Keller Foundation yang tujuannya mulia itu akan berubah menjadi proyek Helen
Killer di  Indonesia!

Jakarta, 12 Januari 2001
DR.Iwan T.Budiarso, DVM,.M.Sc. APU.
Ahli Patologi dan Terapi Auto Urin
Bagian Patologi Anatomi, Fakultas Kedokteran
Universitas Tarumanagara, Jakarta
Alamat Rumah:Tm.Wijayakusuma D/10
Cilandak, Jakarta Selatan 12430
Telp: 769-1822, Fax.: 751-5568

4 Responses

  1. Kami sadar akan bahaya vetsin. Sejak kira kira 1975 kami sekeluarga tidak menggunakan MSG dalam masakan. Anehnya beberapa tahun lalu ketika ada kerabat berulang tahun dan merayakan di sebuah restoran jaman dulu di Wahid Hasyim, Jakarta dengan pesanan khusus tanpa vetsin, seluruh keluarga merasa msakannya tidak enak.

    Disisi lain kami usaha makanan tanpa vetsin. Banyak konsumen kami yang akhirnya tidak mau membeli produk sejenis di pedagang lain. Tetapi ada juga orang berpendidikan tinggi dan kaya yang bilang ‘kalau tambah vetsin kan nggak seberapa nambah ongkos’, jadi dia pikir saya tidak pakai vetsin karena mau irit, padahal tanpa vetsin otomatis kualitas bahan harus lebih baik.

    Juga saya heran banyak restoran yang tanpa vetsin akhirnya gulung tikar.

    • Pak anton, lebih baik kita jual makanan yg sehat agar generasi kita tetap sehat. saya juga membuat masakan tanpa vetcin/ non MSG tapi tetap enak dan banyak yg suka

  2. Vetsin memang berbahaya. Tetapi banyak juga yang mengkonsumsinya, bahkan banyak yang berfikiran bahwa masakan tanpa vetsin bagaikan makanan tanpa rasa.
    Saya sendiri merasakan hingga sekarang, masakan yang menggunakan vetsin memang enak rasanya (bahkan beda banget rasanya di lidah). Tetapi jika saya makan vetsin agak banyak, pencernakan saya tidak normal, malah dalam satu hari itu beberapa kali ke kamar mandi.
    Dan saya sadar, bahwa vetsin tidak baik untuk dikonsumsi dalam jumlah banyak dan terus menerus.

  3. Alhamdullillah, tulisan DR.Iwan memberikan pencerahan pada saya dan keluarga tentang efek buruk penggunaan MSG. Selama ini saya tidak punya referensi yang jelas tentang dampak MSG pada kesehatan. Semoga ini juga akan membuka mata banyak keluarga yang lain sehingga kedepannya kita dan anak2 kita dapat menjadi generasi yang lebih sehat. Sekali lagi terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: